FESTIFAL FILM

Tanoh Lado Fest 2026

Menjelajahi sinema dokumenter sebagai ruang perjumpaan, dialog, dan konvergensi kebudayaan di tengah percepatan zaman.

APAITU TANAH LADO?

Tahukah kalian apa itu Tanah Lado? Tanah Lado Film Festival, berangkat dari sebuah gagasan yang lahir dari sebuah perbincangan ringan sebuah komunitas yang baru terbentuk, muncul wacana untuk mengadakan sebuah festival dalam dunia perfilman Indonesia yang sampai sekarang pun jarang disentuh. Apalagi di Lampung ini juga belum ada yang mencetuskan festival dokumenter ini. Terdapat ciri khas film dokumenter yang membedakannya dari produk audio visual lainnya, sebuah kekuatan signifikan sebagai media yang mencerdaskan, reflektif, dan dapat melewati batas ruang dan waktu. Di tengah arus media massa yang demikian deras, film dokumenter memiliki peran penting sebagai media aspirasi yang mandiri. Dan terbentuklah festival film dokumenter yang diberi nama Tanah lado Festival.

BUDAYA YANG HIDUP

Di tengah percepatan zaman yang ditandai oleh mobilitas manusia, arus informasi, dan perkembangan teknologi, kebudayaan tidak lagi hidup dalam batas-batas geografis yang kaku. Ia bergerak, bertemu, bernegosiasi, dan bertransformasi. Tradisi yang dahulu tumbuh dalam ruang komunitas tertentu kini berjumpa dengan tradisi lain, dengan bahasa baru, dengan medium baru, serta dengan generasi yang memiliki cara pandang berbeda terhadap warisan masa lalu.

Konvergensi kebudayaan lahir dari perjumpaan tersebut. Ia bukan proses penyeragaman yang menghapus perbedaan, melainkan dialog yang memungkinkan berbagai identitas tetap hadir sambil saling mempengaruhi. Dalam konvergensi, kebudayaan tidak kehilangan akarnya, tetapi menemukan cara baru untuk bertahan dan berkembang. Yang lama tidak ditinggalkan, melainkan ditafsir ulang; yang baru tidak sepenuhnya asing, karena tumbuh dari perjumpaan dengan yang telah ada.

Di ruang konvergensi, batas antara tradisional dan modern menjadi cair. Ritual dapat hidup berdampingan dengan teknologi, bahasa lokal dapat bersuara dalam panggung global, dan seni rakyat dapat menemukan bentuk baru melalui medium kontemporer. Generasi muda tidak hanya mewarisi budaya, tetapi juga menciptakan ulang maknanya sesuai dengan pengalaman zaman mereka. Dengan demikian, kebudayaan tidak berhenti sebagai artefak masa lalu, melainkan menjadi praktik hidup yang terus berubah

JALUR REMPAH DALAM

PERSPEKTIF GASTROMI BUDAYA

Jalur Rempah merupakan jaringan historis perdagangan maritim yang menghubungkan Nusantara dengan berbagai peradaban dunia sejak berabad-abad lalu. Namun, dalam kajian kontemporer, Jalur Rempah tidak lagi dipahami semata sebagai jalur ekonomi, melainkan sebagai ruang pertukaran budaya yang membentuk identitas gastronomi masyarakat Indonesia. Gastronomi budaya memandang makanan sebagai hasil interaksi antara lingkungan, sejarah, pengetahuan lokal, serta praktik sosial yang diwariskan secara turun-temurun.Rempah-rempah seperti pala, cengkih, lada, dan kayu manis menjadikan Nusantara pusat perhatian dunia sejak abad ke-15. Menurut Amitav Ghosh dalam The Nutmeg’s Curse, pala dari Kepulauan Banda bukan hanya komoditas dagang, tetapi simbol bagaimana eksploitasi sumber daya alam berkaitan erat dengan kolonialisme dan perubahan tatanan sosial global. Ia menyatakan bahwa “the story of nutmeg is inseparable from the history of conquest and the reshaping of the world economy.”¹ Pernyataan ini menunjukkan bahwa rempah memiliki makna historis yang melampaui fungsi kuliner.

Gastronomi budaya melihat makanan sebagai representasi identitas sosial. Fadly Rahman dalam Jejak Rasa Nusantaramenegaskan bahwa sejarah makanan Indonesia memperlihatkan dinamika hubungan kekuasaan, migrasi, dan adaptasi budaya yang tercermin dalam praktik kuliner sehari-hari.³ Hidangan tradisional tidak sekadar resep, melainkan arsip budaya yang menyimpan nilai sejarah dan pengetahuan lokal.

Berdasarkan kajian tersebut, konsep Jalur Rempah dalam gastronomi budaya dapat dipahami melalui tiga pendekatan utama :

  1. Dimensi Historis
    Rempah menjadi penggerak konektivitas global dan membentuk jaringan perdagangan internasional yang memengaruhi perkembangan budaya makan di Nusantara.
  1. Dimensi Sosial Dan Ritual
    Penggunaan rempah hadir dalam tradisi adat, pengobatan tradisional, hingga ritual keagamaan, menunjukkan hubungan erat antara pangan dan sistem nilai masyarakat.
  1. Dimensi Identitas Dan Diplomasi Budaya
    Saat ini, gastronomi berbasis rempah menjadi sarana diplomasi budaya Indonesia untuk memperkenalkan sejarah dan identitas bangsa melalui kuliner.

Dengan demikian, Jalur Rempah dapat dipahami sebagai ekosistem budaya yang hidup. Gastronomi menjadi medium untuk membaca sejarah melalui rasa, aroma, dan praktik kuliner yang terus berkembang. Mengangkat Jalur Rempah dalam pendekatan gastronomi budaya berarti menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan melalui pengalaman makan sebagai warisan budaya.

BEHIND TLFF25

FESTIVAL

PROGRAM

1

Kompetisi Film Dokumenter

2

Layar Sumatra

3

Lado Cinema Camp

4

Perspektif Screening

5

Awarding

TIMELINE

Submission

Pendaftaran

6 April - 25 Juni 2026

Submission

Pengumpulan Film

6 April - 25 Juni 2026

TLFF26

Screening Karya Umum

10 Juli 2026

TLFF26

Screening Karya SMA/Sederajat

11 Juli 2026

Clossing

Awarding

12 Juli 2026

MERCH

pro-image

Paket

17.000

Beli
pro-image

Paket

17.000

Beli
pro-image

Paket

17.000

Beli

MEDIA PARTNER

SPONSOR