Budaya adalah sesuatu yang tetap diturunkan, dijaga, dan diwariskan tanpa banyak
berubah. Namun waktu mengajarkan kita sebaliknya. Budaya bergerak. Ia mengalir,
menolak, menyesuaikan, dan mencipta ulang dirinya sendiri. Ia hidup karena
perjumpaan.
Tema “Daur Baur Budaya: Convergensi Kebudayaan” adalah upaya membaca
pergerakan zaman: tentang tradisi yang bertemu teknologi, tentang bahasa ibu yang
bersisian dengan bahasa algoritma. Kita hidup di pergerakan itu. Di ruang-ruang kota,
identitas dinegosiasikan setiap hari. Di desa-desa, ritus lama berdialog dengan
kamera dan jaringan internet. Di layar kecil dalam genggaman, tarian adat dan musik
elektronik bisa berdampingan tanpa sekat geografis. Semua bergerak, saling
menyentuh, saling memengaruhi—kadang lembut, kadang penuh gesekan.
“Daur baur” bukanlah kisah tentang kehilangan kemurnian. Ia adalah kisah tentang
kelahiran bentuk-bentuk baru. Tentang keberanian untuk berubah tanpa melupakan
akar. Tentang keberlanjutan yang tidak selalu berarti bertahan dalam bentuk lama,
tetapi menemukan cara baru untuk tetap hidup.
Festival ini bukan sekadar ruang pemutaran film, melainkan ruang perjumpaan. Di
sini, sineas, penonton, akademisi, dan pelaku budaya duduk dalam lingkar yang sama.
Kita tidak hanya menyaksikan, tetapi juga mendengar. Tidak hanya menilai, tetapi
juga merasakan.